Gusti Hendy, Dari Drummer Cilik hingga Menjadi Personel GIGI
Banyak musisi bermimpi bisa bergabung dengan band idolanya. Namun hanya sedikit yang benar-benar berhasil mewujudkannya. Gusti Erhandy Rakhmatullah, atau yang lebih dikenal sebagai Gusti Hendy, adalah salah satunya. Dari seorang penggemar berat GIGI, ia akhirnya dipercaya mengisi posisi drummer band yang sejak remaja menjadi inspirasinya.
Drummer Cilik dari Banjarmasin
Jauh sebelum dikenal sebagai personel GIGI, Hendy sudah akrab dengan panggung sejak masih berusia tujuh tahun. Di Banjarmasin, tempat ia dibesarkan, kakaknya tergabung dalam Pawakha Band, salah satu band yang cukup populer di daerah tersebut pada akhir 1980-an.
Setiap kali Pawakha Band tampil, penonton selalu menantikan satu atraksi yang menjadi ciri khas mereka. Di tengah pertunjukan, seorang anak kecil naik ke atas panggung, duduk di balik drum, lalu memainkan lagu rock dengan percaya diri. Anak kecil itu adalah Hendy.
Ketertarikannya terhadap drum muncul secara alami. Saat kakaknya berlatih di rumah, ia sering memainkan perangkat drum ketika sesi latihan berhenti sejenak. Bakatnya segera disadari para musisi yang melihatnya. Meski awalnya hanya belajar dasar-dasar membaca not dan ritme, kemampuan Hendy berkembang sangat cepat.
Tak lama kemudian ia membentuk Little Pawakha Band, sebuah trio beranggotakan musisi-musisi cilik yang kerap tampil di berbagai kesempatan.
Menimba Ilmu ke Jakarta
Keinginannya untuk berkembang membuat Hendy rutin datang ke Jakarta setiap liburan sekolah. Salah satu impiannya adalah belajar langsung kepada drummer ternama Gilang Ramadhan.
Meski belum sempat bertemu karena jadwal Gilang yang padat, Hendy mendapat kesempatan belajar di Indra Lesmana Workshop (Farabi) bersama Lemmy Ibrahim. Di tempat itulah terjadi momen yang kelak menjadi cerita menarik dalam perjalanan kariernya.
Saat sedang berlatih, seorang gitaris menghampirinya dan mengajak bermain bersama. Hendy kecil pun melakukan sesi jam singkat bersama gitaris tersebut. Bertahun-tahun kemudian ia baru menyadari bahwa gitaris itu adalah Dewa Budjana, yang saat itu bahkan belum membentuk GIGI.
Lima belas tahun setelah pertemuan tersebut, keduanya justru berdiri di panggung yang sama sebagai personel GIGI.
Festival demi Festival
Memasuki usia remaja, Hendy mulai aktif mengikuti berbagai festival band di Kalimantan bersama Pawakha Band. Prestasi demi prestasi mulai diraih, termasuk gelar Drummer Terbaik dalam ajang festival tingkat nasional.
Di masa inilah kecintaannya kepada GIGI semakin besar.
Ia mengoleksi seluruh album GIGI dan mengidolakan Ronald Fristianto, drummer pertama band tersebut. Bahkan, menurut pengakuannya, ia membeli album apa pun yang dimainkan Ronald, meski bukan penggemar lagu-lagunya.
Band yang ia bentuk bersama teman-temannya pun kerap membawakan lagu-lagu GIGI di berbagai festival.
Menjadi Musisi Profesional
Setelah lulus SMA pada 1998, Hendy memutuskan pindah ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah sekaligus mengejar cita-cita menjadi musisi profesional.
Di ibu kota, ia akhirnya benar-benar bisa belajar langsung kepada Gilang Ramadhan.
Kesempatan berikutnya datang ketika ia dipercaya mengisi posisi drummer Big City Blues, grup musik yang dihuni musisi-musisi senior seperti Donny Suhendra. Pengalaman bermain hampir setiap malam bersama para senior membuat kemampuan musikal Hendy berkembang pesat.
Selain menjadi sumber penghasilan pertamanya sebagai musisi profesional, masa tersebut juga membentuk karakter permainannya yang lebih matang dan penuh rasa.
Meski jadwal manggung sangat padat, Hendy tetap berhasil menyelesaikan kuliahnya dan lulus sebagai Sarjana Ilmu Komunikasi pada 2003.
Dipanggil Musisi-Musisi Besar
Karier Hendy terus menanjak.
Penampilannya bersama Big City Blues membuat Jockie Suryoprayogo mengajaknya terlibat dalam proyek Rock Opera. Tak lama kemudian, ia juga dipercaya tampil bersama Erwin Gutawa Orchestra dalam konser “Bali for The World” dan berbagai proyek musik lainnya.
Pengalaman tersebut membuka jalan bagi Hendy untuk semakin dikenal sebagai drummer session yang diperhitungkan di industri musik Indonesia.
Ia juga sempat bergabung dengan band Omelette, yang saat itu berada di bawah manajemen yang sama dengan GIGI.
Dari Fans Menjadi Personel GIGI
Tahun 2004 menjadi titik balik terbesar dalam perjalanan karier Hendy.
Suatu hari, Dewa Budjana menghubunginya untuk datang latihan. Awalnya Hendy mengira mereka hanya akan bermain dalam formasi trio seperti biasanya. Namun sesampainya di lokasi, ia mendapat kejutan besar.
Latihan tersebut ternyata merupakan persiapan GIGI untuk menggarap album soundtrack Brownies.
Tak lama kemudian, Hendy resmi dipercaya menggantikan posisi Budhy Haryono sebagai drummer GIGI.
Keputusan itu menjadi momen yang sangat emosional baginya. Selain harus menggantikan drummer senior yang telah lama menjadi bagian penting GIGI, Hendy juga merasa memikul tanggung jawab besar terhadap band yang sejak remaja begitu ia kagumi.
Sebelum memasuki proses rekaman, ia bahkan mengaku berlatih secara khusus—sesuatu yang sebelumnya hampir tidak pernah ia lakukan saat mengerjakan proyek sebagai session player.
Mimpi yang Menjadi Kenyataan
Jauh sebelum bergabung dengan GIGI, Hendy pernah bercanda kepada teman-temannya di Banjarmasin.
“Aku nanti yang jadi drummer GIGI.”
Saat itu mungkin tidak ada yang menganggap ucapan tersebut sebagai sesuatu yang serius. Namun bertahun-tahun kemudian, kalimat itu benar-benar menjadi kenyataan.
Perjalanan Gusti Hendy membuktikan bahwa mimpi besar sering kali berawal dari panggung kecil, latihan sederhana di rumah, dan keberanian untuk terus belajar. Dari seorang drummer cilik di Banjarmasin, ia akhirnya menjadi bagian dari salah satu band paling berpengaruh dalam sejarah musik Indonesia.
Referensi:
- Artikel arsip KabarMusik (4 Januari 2011).

